Selasa, 21 Juni 2016

Apa yang terjadi jika hiu hilang dari ekosistem laut

Apa yang terjadi jika hiu hilang dari ekosistem laut
Apa yang terjadi jika hiu hilang dari ekosistem laut
Hiu terkena pancing

Hiu merupakan salah satu predator puncak dalam rantai makanan diekosistem laut. Hiu salah satu predator berdarah dingin yang bisa ditemui diseluruh perairan di dunia. Hampir terdapat 500 jenis spesies hiu diseluruh dunia, 118 spesies hiu diantaranya yang berhasil ditemukan diseluruh perairan Indonesia.

Hiu termasuk family superordo selachimorpha anggota dari kelas Chondrichthyes (ikan yang memiliki tulang rawan), hiu bernafas dengan lima insang kadang enam hingga tujuh (tergantung spesiesnya), dan pada bagian kepalanya dilapisi kulit dermal denticles untuk melindungi kulit dari parasit.

Ada berbagai ragam jenis hiu mulai yang berekor panjang hingga yang kepalanya menyerupai martil, tapi hampir seluruh jenis hiu memiliki bentuk badan yang ramping, sehingga sangat cocok untuk bergerak dan memburu mangsa.

Ukuran hiu juga beraneka ragam, mulai yang berukuran setelapak tangan ( hiu pigmi Euprotomicrus)  yang memiliki panjang 22 cm, yang merupakan hiu air dalam, hingga yang memiliki panjang 12 meter ( Hiu paus Rhincondon typus), hiu paus merupakan salah satu hiu terbesar di dunia yang memangsa plangkton sebagai makanan utamanya,


Hiu merupakan spesies yang sangat lambat dalam hal perkembang biakan, hanya sekali dalam setahun dan jumlahnya pun hanya sedikit dibawah 100 ekor dalam setiap kelahiran, berbeda dengan ikan ikan lain yang mampu bertelur dalam jumlah besar hingga mencapai ribuan bahkan jutaan telur, dan bisa beberapa kali bertelur dalam setiap tahunnya. 

Kemampuan reproduksi yang lamban membuat populasi hiu terancam punah, jika dilakukan penangkapan besar besaran oleh nelayan ataupun oleh sebagian kecil karena terkena pancing secara terus menerus.

Apa yang terjadi jika hiu hilang dari ekosistem laut
Hiu terkena pancing

Banyak nelayan menangkap hiu untuk dikonsumsi, dagingnya dijadikan daging asap, bahkan ketika ada tawaran yang menggiurkan oleh pasar, karena mahalnya harga sirip hiu, beberapa nelayan melakukan penangkapan hiu secara sadis, dimana hiu hanya diambil sirip dan ekornya yang kemudian dilepas kembali ke laut, hiu hiu yang tertangkap dan dilepaskan lagi tanpa sirip dan ekor tidak akan bisa bergerak aktif dan akan mati karena tidak bisa bernafas dengan baik,  hal ini benar benar akan menjadi bencana besar untuk keberadaan dan populasi hiu itu sendiri. 

Permintaan  pasar terbesar akan sirip hiu adalah berasal dari Asia. Mengatur perdagangan merupakan kunci untuk melindungi spesies penting ini dari kepunahan, sehingga laut akan tetap produktif sebagai bentuk ketahanan akan kebutuhan hasil laut.

Pada tahun 1996 World Wildlife Found (WWF)- internasional, mencatat ada 15 spesies hiu diseluruh dunia yang terancam punah, tetapi pada tahun 2010 jumlah itu melonjak hingga mencapai 180 spesies. Di Indonesia sendiri ada sekitar 20 spesies yang terancam punah menurut ICN, Jadi diperkirakan 90% populasi hiu diseluruh dunia sudah mengalami penurunan drastis.

Lalu apa yang terjadi jika hiu hilang dari ekosistem laut ?

Sebuah pertanyaan besar tentunya karena hiu merupakan predator puncak pada rantai makan pada ekosistem laut. Ekosistem laut merupakan jaringan makanan yang sangat rumit, hiu merupakan jenis carnivora yang memangsa spesies spesies lain didalam satu jaringan ekosistem, keberadaan hiu sendiri menjadi penyeimbang. Sebagai hewan yang telah berevolusi selama jutaan tahun, hiu mampu menekan ledakan populasi dari predator lain yang tentunya akan mengganggu perkembangan spesies lainnya.

Bayangkan jika keberadaan hiu hilang dari rantai ekosistem yang pastinya akan diikuti dengan hilangnya spesies lain, yang sebagian merupakan jenis ikan ikan kosumsi yang dibutuhkan oleh masyarakat luas. Artinya jika keberadaan hiu dihilangkan dari jaringan ekosistem maka rusaklah ekosistem itu sendiri bahkan bisa musnah.

(Diambil dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar