Minggu, 31 Juli 2016

Mendeteksi lokasi keberadaan ikan

Mendeteksi lokasi keberadaan ikan
Mendeteksi lokasi keberadaan ikan

Keberadaan ikan disuatu tempat atau daerah banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor, yang sekaligus mempengaruhi pola hidup berdasarkan tingkat toleransi masing masing jenis ikan terhadap lingkungannya. Misalkan pada saat kondisi suhu dan temperatur air laut melebihi batas toleransi maka ikan akan melakukan migrasi mencari lokasi perairan dengan kondisi suhu dan temperatur yang lebih sesuai. Akan tetapi jika perubahan suhu dan temperatur air masih dibatas toleransi, hal ini akan berpengaruh terhadap pola makan dan tingkat agresifitasnya.

keberadaan lokasi ikan diperairan Indonesia sendiri bersifat dinamis,  selalu berubah (berpindah) mengikuti pergerakan dan perubahan kondisi lingkungan tempat ikan ikan (mencari makan). Yang melalui proses alamiah ikan akan menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan sekitar. Dalam hal ini biasanya terdapat musim ikan disuatu daerah terutama untuk jenis ikan pelagis seperti tongkol, tenggiri, cakalang, dan tuna sirip kuning.

Habitat sebuah lingkungan akan sangat dipengaruhi oleh parameter oceanografi yang meliputi temperatur dan suhu air laut baik permukaan maupun dasar laut, salinitas air, konsentrasi klorofil, perubahan cuaca maupun pergantian musim yang berpengaruh terhadap dinamika pergerakan air laut. Hal inilah yang menjadi kendala bagi penangkapan ikan di Indonesia karena kurangnya data dan informasi bagi para nelayan mengenai kondisi oceanografi yang berkaitan dengan daerah potensi penangkapan ikan. Sehingga terjadi pemborosan waktu dan bahan bakar untuk mencari lokasi fishing ground.

Salah satu teknologi yang digunakan untuk mencari data dan informasi mengenai wilayah perairan yang merupakan daerah penangkapan  ikan adalah teknologi penginderaan jauh atau remote sensing. Yang meliputi sebaran suhu permukaan laut dan konsentrasi klorofil. Dari informasi sebaran suhu permukaan laut dapat diidentifikasi daerah upwelling dan front termal yang merupakan daerah potensi perikanan, data data tersebut bisa diperoleh melalui citra satelit.

NOAA- merupakan satelit milik Amerika yang menerapkan sistem AVHRR (Advanced Very High Resolution Radiometer) sebagai sensor radiasi yang bisa digunakan untuk menentukan tutupan awan dan suhu permukaan. Sensor ini berupa radiometer yang menggunakan 6 detector yang merekam rediasi pada panjang gelombang yang berbeda-beda. Data AVHRR terutama digunakan untuk ramalan cuaca harian dan dapat diterapkan secara luas pada banyak lokasi dan perairan. Data AVHRR  digunakan untuk membuat Peta Suhu Permukaan Laut (Sea Surface Temperature maps/SST Maps), dimana dapat digunakan untuk prediksi daerah tangkapan ikan melalui beberapa proses sederhana. Yaitu Sensor yang ada pada satelit diberi filter hijau (band hijau) secara digital, sehingga detektor akan mendeteksi sinar hijau saja pada permukaan laut untuk mendeteksi konsentrasi klorofil. Yang selanjutnya di lakukan pengukuran secara manual (in-site) di lokasi perairan tersebut, untuk memastikan kebenaran data data yang di peroleh oleh satelit.

Contoh data informasi dari penginderaan jarak jauh melalui citra satelit.

Mendeteksi lokasi keberadaan ikan




Klorofil-a merupakan sejenis plankton yang mengandung klorofil (zat hijau daun). Plankton ini merupakan makanan ikan-ikan kecil, yang kemudian akan mengundang ikan ikan besar sebagai predator didalam rantai makanan dalam sebuah ekosistem laut.

Kita dapat memperoleh data klorofil-a dan sebaran suhu melalui informasi dari dinas perikanan setempat untuk bisa dijadikan acuan sebagai titik lokasi mancing.

Penggunaan fish finder sebagai alat pendeteksi fishing ground.

Fish finder menerapkan cara kerja yang sama dengan echo sounder, menggunakan pantulan gelombang suara (pulsa) yang dipantulkan oleh tranduser pada fish finder secara vertical hingga menyentuh dasar laut, yang kemudian pulsa gelombang tersebut dipantulkan lagi dan diterima oleh tranduser untuk kemudian dirubah menjadi tampilan bentuk dasar laut pada layar fish finder. Yang berupa kedalaman bentuk kontur dasar dan menditeksi adanya gerombolan ikan.

Mendeteksi lokasi keberadaan ikan
Fishfinder merupakan alat bantu pendeteksi ikan dan kontur dasar laut

Fish finder terdiri dari beberapa komponen antara lain :

- Transmiter
- Tranducer
- Receiver
- Recorder

Cara kerja fish finder :

Transmiter merupakan pembangkit pulsa listrik pada frekuensi tertentu yang diperkuat oleh power amplifier kemudian di salurkan ke tranducer. Tranducer bertugas untuk merubah energi listrik menjadi energi suara yang kemudian dipancarkan dan diterima kembali berupa gema, yang kemudian diubah kembali menjadi energi listrik. Fungsi lain dari tranducer yaitu menghimpun energi suara yang dipantulkan ke dalam beam (sudut sorotan). Kemampuan masing2 tranducer berbeda beda dalam menditeksi kontur karang dan keberadaan ikan, biasanya tersedia mulai dari yang paling rendah 400w, 600w, hingga di atas 1000w dengan kemampuan membaca kontur karang dan keberadaan ikan lebih detil.

Pulsa suara yang diterima oleh tranducer dan dirubah menjadi energi listrik akan di kuatkan oleh receiver sebelum dialirkan ke recorder. Recorder sebagai alat pencatan untuk di tampilkan pada layar display CRT, yang berbentuk sinar osilasi (warna layar).


Sea maps sebagai langkah awal pendeteksi keberadaan ikan.


Peta kedalaman laut

Jenis ikan terbagi menjadi 2 golongan yaitu ikan pelagis dan ikan demersal (penghuni karang). Jenis ikan ikan pelagis memiliki pola hidup berpindah pindah (ikan datang) mengikuti ketersedian makanan pada lokasi perairan laut. Ikan jenis palagis banyak dijumpai berada dipermukaan laut maupun pertengahan air laut, yang pada kondisi malam hari penerangan lampu merupakan cara yang tepat untuk mengundang ikan pelagis, hal ini karena ketersediaan ikan ikan kecil dan cumi yang berada disekeliling lampu yang menjadi makanan utamanya.

Selain itu penyebaran dan konsetrasi klorofil serta adanya biomassa yang naik dari dasar laut kepermukaan (up welling) memicu keberadaan ikan ikan pelagis yang mencari mangsa ikan ikan kecil di sekitar lokasi perairan yang banyak terdapat plankton yang mengandung klorofil ( zat hijau daun), sebagai makanan nya.

Penyebaran klorofil ini bisa menjadi acuan keberadaan ikan ikan pelagis seperti tongkol cakalang dan tuna, yang data dan informasinya bisa diperoleh dari departeman kelautan dan perikanan melalui citra satelit dan pengujian dilapangan.

Sedangkan untuk jenis ikan ikan demersal (penghuni dasar karang) keberadaan karang, drof off, atau rumah ikan buatan bisa menjadi acuan untuk mendeteksi keberadaan ikan tersebut. Hal ini penggunaan sea maps atau peta dasar laut sangat di perlukan sebagai langkah awal untuk mendeteksi keberadaan lokasi tempat ikan (fishing ground). Kita bisa memadukan beberapa peta dasar laut dari beberapa website atau aplikasi untuk dijadikan target explorasi untuk menemukan lokasi fishing ground. Misalkan pada peta dasar laut seperti Navionic, yang kemudian titik kordinatnya dipadukan dengan google earth yang merupakan hasil dari photo satelit, guna memperoleh titik lokasi yang real yang selanjutnya kita jadi kan target pencarian fishing ground, dengan menggunakan alat bantu berupa GPS dan fish finder untuk menempatkan posisi kapal tepat di atas lokasi spot.

Dengan demikian keberadaan teknologi dewasa ini sangat membantu dalam proses penangkapan ikan dan meningkatkan hasil laut dalam batas batas yang normal. Selain menghemat waktu, bahan bakar dan biaya. Kita bisa menentukan spot spot tujuan mancing yang potensial.

Semoga bermanfaat.

Kontributor : Dr Rommy Abdulloh

Sabtu, 30 Juli 2016

Elongasi dan karakteristik yang di timbulkan pada senar

Elongasi dan karakteristik yang di timbulkan pada senar 


Elongasi dan karakteristik yang di timbulkan pada senar

Senar merupakan salah satu piranti mancing yang memiliki peran vital, tanpa menggunakan joran dan reel, mancing dengan teknik handline pun akan tetap menyenangkan. Ada beberapa jenis senar yang sering kita jumpai antara lain Nylon Fluro carbon dan braided. Senar senar ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing masing yang sebaiknya kita ketahui, baik tingkat elongasi, ketebalan (diameter), kekuatan dan tingkat  sensitifitasnya, sehingga kita bisa menentukan jenis senar apa yang sebaiknya kita gunakan untuk mancing dengan teknik dan target ikan tertentu.

Pada pertemuan kali ini saya akan membahas mengenai elongasi dan karakteristik yang timbulkan pada senar.

Elongasi pada senar merupakan rasio perpanjangan senar ketika menerima beban atau berupa tarikan. Pada proses terjadi nya Elongasi dalam satu pengukuran melalui sebuah tes, terjadi dua kondisi dimana senar belum terdeformasi dan terdeformasi.

Kondisi belum terdeformasi artinya Senar yang dites (spesimen) setelah mengalami perpanjangan dan diberikan kesempatan relaksasi akan kembali ke bentuk dan panjang semula serta kualitasnya tidak mengalami perubahan yang berarti.

Sedangkan kondisi terdeformasi terjadi bila senar yang di tes (specimen) ditarik melebihi batas toleransi senar tersebut, akan menimbulkan perubahan bentuk dan panjang yang permanen (tidak bisa kembali seperti semula), yang di sertai dengan adanya penurunan kualitas senar.

Pada prakteknya senar pancing yang menerima beban tarikan, pada awalnya akan berada pada kondisi belum terdeformasi yang artinya bisa kembali kebentuk semula setelah melalui proses relaksasi, akan tetapi jika senar di tarik lebih lanjut, hingga beban yang di terima oleh senar melebihi tingkat toleransi senar itu sendiri, maka akan terjadi kondisi terdeformasi, dimana senar tidak bisa kembali kebentuk dan panjang semula, bahkan akan mengalami perubahan diameter yang semakin mengecil yang di ikuti penurunan kualitas senar.

Terjadinya elongasi di pengaruhi oleh beberapa hal diantaranya :

1. Beban yang di terima senar (kekuatan tarikan).
2. Durasi waktu (Lamanya terjadi tarikan).
3. Suhu dan Temperatur di tempat kejadian.
4. Tempat terjadinya tarikan, di udara, air tawar, atau air asin?
5. Saat terjadi proses tarikan, senar berada pada kondisi bebas dari gesekan atau
Ada objek lain yang menyentuh permukaan senar (terjadi gesekan), sehingga menyebabkan kerusakan permanent pada senar.

Berikut ini hasil pengujian beberapa senar yang di lakukan di lab PT CSP Indonesia.

Pengujian kali ini bertujuan untuk melihat tingkat elongasi masing masing senar dan perbedaan karakteristik akibat elongasi itu sendiri.

Elongasi dan karakteristik yang di timbulkan pada senar
Pengujian senar di lab PT CSP Indonesia

Beberapa jenis senar yang kita uji antara lain, senar Nylon mono , Nylon leader, fluorocarbon mono dan PE (braided).

Pada masing-masing senar, kita berikan beban tarikan dengan tingkat kenaikan bertahap, dan selalu kita amati setiap perpanjangan yang terjadi. Sebagai contoh senar fluro carbon 30 kg diberi beban tarikan 3kg (10%) dengan panjang senar 10m, maka tingkat elongasi yang terjadi adalah 10.33 m (terjadi perpanjangan 0.33m dari panjang awal 10m), Yang kemudian beban tarikan di naikan secara bertahap, 25%, 50% hingga 75% dari kekuatan senar.

Proses pengetesan dengan di beri beban tarikan mulai dari 10%, 25%, 50% dan 70% mempunyai tujuan yang berbeda. Pada beban tarikan 10% adalah kondisi di mana saat terjadinya proses hookset/penetrasi (ikan menyambar umpan).

Sedangkan pengetesan dengan beban tarikan 25%, 50% dan 70%, kita fokus mengamati tingkat deformasi yang terjadi pada senar.

Tabel hasil tes

Dari tabel di atas kita memperoleh beberapa kesimpulan bahwa semakin tinggi perpanjangan yang terjadinya pada senar (ketika diberikan beban tarikan), maka semakin kuat senar tersebut mampu menahan hentakan (jenis senar Nylon), begitu juga semakin rendah terjadinya perpanjangan senar (ketika menerima beban tarikan), maka semakin kecil kemampuan senar menahan hentakan (jenis senar fluro carbon dan PE)

Semakin tinggi perpanjangan senar (ketika di beri beban tarikan) maka tingkat sensitifitas senar akan semakin kecil (jenis senar Nylon), begitu juga sebaliknya semakin rendah perpanjangan pada senar maka semakin tinggi sensitifitas yang di miliki senar tersebut (jenis senar fluro dan PE).

Hal ini tentunya berhubungan dengan karakteristik masing masing senar yang di akibatkan oleh terjadinya proses elongasi itu sendiri. Misalnya senar braided 4x, senar jenis ini cenderung sensitif tetapi kurang tahan terhadap hentakan.

Senar utama yang dipakai normalnya adalah jenis senar nylon atau PE. Secara umum senar utama nylon dengan tingkat elongasi 6.2% cukup baik untuk penetrasi pancing ke mulut ikan. Nylon juga tahan terhadap hentakan ikan.

Dengan catatan : Efektif rentang panjang senar yang keluar dari spool di sarankan maksimum tidak melibihi 20 meter, karena bila melebihi 20m, sensitivitas hookset pada senar Nylon akan berkurang.

Solusinya agar tingkat sensitifitasnya tetap dalam kondisi stabil, yaitu tambahkan leader fluro carbon di ujung main line (senar utama), yang memiliki sensitifitas cukup baik dengan tingkat elongasi 3.3% pada tingkat beban tarikan 10% dari kekuatan senar.

Sedangkan untuk senar jenis PE memiliki tingkat sensifitas cukup baik dengan tingkat elongasi 0.5% pada beban tarikan 10% dari kekuatan senar, akan tetapi tidak tahan dengan hentakan, hal ini bisa di siasati dengan pemakaian leader dengan lbs diatas kekuatan senar PE  atau dengan pemakain joran dengan tipe slow tapper atau moderet (medium tapper) yang akan membantu meredam hentakan ikan. Dengan settingan drag reel tidak melebihi 30% dari kekuatan senar.

Senar dalam kondisi normal tanpa beban akan cenderung mudah ditarik (memiliki tingkat perpanjangan tinggi). Kemudian dengan penambahan kekuatan tarikan yang sama akan makin sulit ditarik. Saat senar melewati titik  deformasi, biasanya senar akan memberikan perlawanan yang berkurang dan mudah terjadi proses perpanjangan lagi karena kualitas senar sudah menurun.

Dari hasil test, kita mencoba menyimpulkan :

1. Titik deformasi nylon ada di kisaran
beban 75%. (Batas toleransi pada senar Nylon)

2.Titik deformasi fluorocarbon ada di
kisaran beban 60%. (Batas Toleransi pada fluro carbon).

3.Titik deformasi PE (Braided) ada di kisaran beban 60%. (Batas Toleransi pada senar PE)

4.Nylon adalah senar yang lebih tahan
terhadap stress/tekanan dibandingkan fluro carbon dan PE.

5.Senar fluro carbon mempunyai tingkat sensitifitas lebih baik di banding senar Nylon dengan tingkat elongasi 3.3% pada pengujian beban tarikan 10%, hal ini akan sangat terasa ketika terjadi hookset di mana ikan menyambar umpan.

Pada akhirnya, pemilihan senar baik nylon atau PE tergantung kepada kebutuhan dan tingkat kenyamanan masing masing pemancing selain itu juga di sesuaikan dengan teknik memancing yang di gunakan. Begitu juga pemilihan leader baik jenis Nylon maupun fluro carbon.

Kita beruntung hidup di era di mana senar sudah banyak yang bisa menjadi pilihan.

Semoga bermanfaat.

Kolaborasi Media Pancing dan Mancing Mania

Jumat, 29 Juli 2016

Plug jenis minnow dan crankbait

Plug jenis minnow dan crankbait

Plug  merupakan salah satu umpan tiruan terbuat dari bahan kayu atau plastik berongga yang di buat semirip mungkin dengan ikan ikan kecil atau binatang lain seperti tikus, kodok, atau udang, dengan action menimbulkan suara gemericik atau pop splash jika di mainkan. Plug atau Lure terdapat dua kategori yaitu surface lure (top water) dan subsurface lure atau (diving), baik dari jenis minnow maupun crankbait.

Minnow merupakan umpan tiruan yang terbuat dari bahan kayu atau plastik yang menyerupai ikan dengan bentuk ramping dan memanjang, pada bagian mulutnya di lengkapi lidah yang menjulur terbuat dari bahan plat besi maupun plastik akrilik yang dalam istilahnya disebut sebagai lips atau bibir.

Action minnow tergantung dari besar dan lebar sudut lidah yang mempengaruhi tingkat kedalaman menyelam saat di retrive. Dengan ciri khas meliuk liuk umpan jenis minnow mampu menggoda ikan predator permukaan atau di pertengahan air. Minnow di lengkapi kail berupa treble hook pada body bawah dan ekor, terkadang hingga tiga treble hook sekaligus dalam satu minnow.

Jenis minnow menurut daya apung dan tenggelamanya terbagi atas : Floating, slow floating, shallow, slow sinking, sinking.

Sedangkan crankbait salah satu jenis umpan buatan yang bentuk umumnya agak bulat dan gemuk dengan lidah yang lebar. Untuk membedakan jenis crank bait bisa di lihat dari ukuran lidahnya antara lain shallow dan deep diving.

Bagi para penggila teknik mancing casting baik fresh water maupun salt water, pemilihan umpan merupakan salah satu faktor penting yang memepengaruhi tingkat keberhasilan kita dalam memancing, misalnya menyesuaikan jenis umpan dengan ikan yang menjadi target dari kedalamannya, atau jenis umpan yang mampu mengusik ikan predator yang lagi malas memburu mangsa dsb. Berikut ini beberapa jenis plug yang sering kita jumpai di beberapa toko alat pancing.

Minnow


- Floating type,
umpan minnow jenis floating bekerja pada kedalaman 30 cm sampai 90 cm, biasanya efektif di gunakan untuk perairan dangkal atau untuk target ikan ikan permukaan seperti ikan pelagis, minnow jenis floating bentuknya menyerupai ikan kecil ramping dengan dua karakter antara lain floating dan slow floating.

Karakteristik minnow jenis floating mengapung di permukaan air, jika di tarik akan menyelam kedalam air beberapa centimeter, dan akan kembali mengapung di permukaan air ketika diam, sehingga bisa di lakukan teknik retrive stop and go untuk menarik perhatian ikan predator di permukaan.

Plug jenis minnow dan crankbait
Gmb floating minnow

- Shallow type yang memiliki kemampuan menyelam lebih dalam antara 1,5 meter hingga 2.5 meter. Untuk target ikan ikan yang dekat dengan permukaan (middle range).

Plug jenis minnow dan crankbait
Minnow jenis shallow

- Sinking type memiliki kemampuan menyelam pada kedalaman 3 hingga 5 meter, minnow type sinking memiliki berat tertentu sehingga mampu tenggelam di dalam air, ada 2 jenis minnow jenis sinking yaitu slow sinking dan sinking, kedua jenis ini bisa di bedakan pada tingkat kedalaman.

Minnow jenis sinking memiliki action menyelam mendatar (horizontal) pada kedalaman tertentu. Jenis minnow ini sangat cocok untuk memburu target target ikan dasar atau setengah air (tergantung kedalaman spot).

Plug jenis minnow dan crankbait
Minnow type sinking


- Dive type minnow untuk target ikan ikan di kedalaman biasanya lebih cocok di gunakan untuk teknik trolling.

Plug jenis minnow dan crankbait
Gmb minnow dive

Crankbait


- Floating Shad/Perch, merupakan jenis crankbait yang memiliki bentuk lebih gemuk dan lebih besar  di banding minnow, lure jenis ini terbuat dari bahan kayu maupun plastik yang di dalamnya di isi gotri sebagai pemberat yang jika di mainkan mengeluarkan bunyi ter ..ter..ter..mirip suara ekor ular rattle sehingga lebih di kenal dengan sebutan loud rattle. Nama shad and perch sendiri merupakan nama jenis ikan yang hanya di temui di Eropa maupun Amerika.

Plug jenis minnow dan crankbait
Gmb floating shad

- Mag Lip dan Mag Darter, umpan jenis ini memiliki cengkungan di kepalanya (kepala berbentuk lancip) yang berfungsi seperti lidah pada jenis minnow untuk menyelam ke dalam air dengan gerakan melenggak lenggok pada saat di mainkan, meskipun umpan ini sudah melewati beberapa masa tapi hingga saat ini masih efektif di gunakan untuk menggoda ikan ikan predator.

Ada beberapa model umpan jenis ini seperti pada contoh gambar di bawah ini

Plug jenis minnow dan crankbait
Gmbr mag lip dan mag danter


- Vibrating (vibra), lure jenis ini tidak memiliki lidah untuk menyelam, tetapi memiliki berat tertentu yang bisa tenggelam di dalam air,  posisi senar di ikatkan pada punggung lure, sehingga saat di tarik akan berenang mendatar atau bahkan menukik ke dasar air tergantung posisi lubang untuk mengikat senar pada punggung umpan. Lure jenis vibrating akan bergoyang saat di tarik dengan getaran (vibra) yang terasa hingga tangan pemancing.

Ada dua macam jenis vibrating, berbentuk seperti floating shad dengan dilengkapi gotri di dalamnya, dan ada yang menyerupai bentuk metal jig kecil.


Plug jenis minnow dan crankbait
Vibra dari bahan timah dan plat besi

Plug jenis minnow dan crankbait
Gmb vibra dengan gotri di dalamnya

- Sinking Crankbait, jenis lure yang memiliki kemampuan berenang pada kedalaman 3 hingga 5 meter dari permukaan air, umpan jenis ini tengelam di dalaman air pada kedalaman tertentu, ketika di retrive umpan akan berenang mendatar ( horizontal) pada kedalaman yang sama.

Penggunaan sudut lidah umpan sekitar 45 derajat sangat cocok digunakan pada pertengahan air (mid range), untuk target ikan setengah air dan ikan permukaan.

Sinking crankbait
- Neutrally Buoyant, biasa juga disebut sebagai lure yang melayang. Jenis umpan ini di desain menggunakan pemberat di dalam tubuh umpan, sehingga menghasilkan keadaaan dimana umpan akan melayang di dalam air. Lure ini akan menghasilkan hentakan tak tentu saat di retrive, dan pada saat diam umpan akan kembali melayang.

Jenis umpan ini kadangkala bisa menjadi “shock terapi” bagi ikan yang hanya mengejar umpan tapi malas menyambar.

Plug jenis minnow dan crankbait
Neutraly bouyant


- Floating Trolling Plugs, jenis lure yang memang digunakan untuk trolling karena berukuran relatif besar dengan muka cekung atau dengan lidah menyerupai sendok. Secara umum hampir semua troling plug melayang di permukaan air dan akan menyelam saat ditarik. Hal ini berdasar pada bentuk muka atau lidah nya sehingga menghasilkan gerakan meliuk-liuk di air.

Untuk mengontrol action lure dan kemampuan menyelam, maka sebaiknya dipasang downrigger (tiang penghela yang di pasang di kapal khusus untuk trolling). Kemudian ulur beberapa meter sehingga action lure bisa di ketahui dengan jelas.


Plug jenis minnow dan crankbait
Minnow untuk trolling


- Bobbie Bait, plug yang berbentuk lonjong dan besar biasanya digunakan untuk target ikan-ikan berukuran besar. Jenis umpan ini melayang saat diam dan menyelam saat disentak (jerk) secara kuat kemudian saat ditarik akan mengapung naik ke permukaan. Pada ekor umpan ini  di lengkapi plat baja yang bisa di setel untuk merubah action lure yang berpengaruh pada kemampuan menyelamnya.

Bobbie bait


- Sinking Gliders dan Twitch, umpan jenis Gliders dan twitch merupakan umpan tiruan tanpa mulut dan tenggelam, sehingga aksi masing-masing lure sangat tergantung pemancingnya. Twitch bait ditarik dengan cara di sentak sentak pendek sehingga umpan ini bergerak meliuk-liuk ke kiri, kanan atau ke bawah.

Sedangkan glider bait ditarik menggunakan irama tertentu, hentakan  pendek menyebabkan gerakan meliuk-liuk ke samping atau sering di sebut “walk the dog” di bawah air, sehingga actionnya berkilau kilau seperti anak panah yang melesat.

Gmb atas  twitch bait
Gmb bawah Glider bait


- Creatures, creatures adalah tiruan beragam hewan yang juga menjadi makanan ikan-ikan air tawar seperti kepiting, kodok, tikus kecil, serangga dan lainnya

Plug creatures

Itulahan beberapa jenis plug baik minnow maupun crankbait.

Semoga bermanfaat.


Selasa, 26 Juli 2016

Spot mancing surf fishing dan popping di Bali

Spot mancing surf fishing dan popping di Bali

Spot mancing surf fishing dan popping di Bali
Photo oleh Tong Tio

Bali dengan julukan pulau Dewata merupakan daerah wisata yang cukup terkenal baik di dalam negeri maupun manca negara, karena keindahan alamnya yang cukup mempesona. Selain itu di daerah Bali juga banyak terdapat tempat tempat mancing yang sangat potensial. Baik untuk teknik mancing surf fishing, rock fishing, jigging maupun popping.

Beberapa lokasi yang menjadi tempat favorit untuk mancing dengan teknik surf fishing antara lain di pantai Jimbaran, di daerah Kedonganan yang berada di sekitar Jalan Uluwatu yang menjadi tempat berlabuh kapal kapal nelayan, dan Pura Tegal Wangi, kedua lokasi ini sangat cocok untuk mancing dasaran baik dengan teknik surf fishing maupun rock fishing, dengan target ikan barakuda, kerapu dan beberapa jenis ikan lainnya.

Selain di Jimbaran, Karang Asem juga merupakan salah satu tempat mancing surf fishing dan land base yang cukup bagus, yaitu di daerah Amed dan Labuan Amuk. Untuk menuju kedua tempat ini bisa di tempuh dengan menggunakan mobil sekitar 2 hingga 3 jam dari  bandara Ngurah Rai ke arah timur Bali. Selain kedua tempat tersebut di daerah Karang Asem masih terdapat lokasi mancing yaitu di pinggir bukit Asah di desa Bug Bug. Tempat ini sering di jadikan spot mancing rock fishing dan sebagai tempat berkemah bagi para wisatawan.

Bukit Asah desa Bug Bug
Tempat berkemah di bukit Asah

Spot mancing surf fishing dan rock fishing di daerah Bali lainnya yaitu di Pantai Serangan, kurang lebih 250 meter dari pantai Tengata Bali, water blow di Nusa Dua dan daerah Nusa Peninda dimana sobat mancing harus menyebrangi pulau Bali untuk sampai ke pulau ini dari Sanur atau Padang Bai sekitar 1hingga 2 jam perjalanan.

Spot rock fishing di water blow Nusa Dua

Report mancing landbase di water Blow Nusa Dua (photo Ti Adi Kerambitan)

Report land base popping Tong Tio di daerah Bali

Spot mancing surf fishing dan popping di Bali

Spot mancing surf fishing dan popping di Bali

Spot mancing surf fishing dan popping di Bali

Spot mancing surf fishing dan popping di Bali

Selain teknik surf fishing yang bisa di lakukan dari pinggir pantai, sobat mancing bisa juga menyewa kapal mancing baik kapal jenis jukung maupun kapal boat untuk mancing dengan teknik jigging maupun popping.


Berikut ini beberapa spot popping yang cukup terkenal di daerah Bali antara lain :


- Di daerah Nusa Peninda
mulai dari spot Batu Abah, Batu Sepatu, Batu Bolong, Batu Kaite hingga Mangrove

Spot mancing surf fishing dan popping di Bali
Peta lokasi spot Popping di Nusa Peninda

- Daerah kusambe dari pantai jumpai sampai watu klotok

- Daerah Gianyar pantai lebih dan Rangkan

- Daerah Padangbai sekitar pulau kambing dan area Taked Mimpang

- Karangasemnya sepanjang pantai Ujung sampe Gili selang

Salah satu spot popping yang cukup terkenal yaitu spot Batu Abah di daerah Nusa Peninda, dengan kontur karang dangkal dan ber arus cukup deras, terkadang jukung berkapasitas mesin 15pk hanya bisa jalan di tempat karena harus melawan arus. Di spot ini sudah banyak ikan ikan GT berukuran besar berhasil landed. Rekore GT terbesar yang pernah landed kurang lebih berukuran 60 kg.

Tips popping di daerah Bali

Piranti popping yang biasa di gunakan di daerah Bali tak jauh berbeda dengan piranti popping pada umumnya, bisa menggunakan piranti klas pe 6 sampe pe 10 dan klas pe 3 - 5 untuk light popping, semua bisa di sesuaikan dengan lokasi dan kenyamanan masing. Seperti di spot yang cukup ekstreem dengan kondisi banyak karang tajam dan dangkal dengan kondisi arus kuat, pemakaian piranti besar dengan drag tinggi sangat di perlukan, agar kita mampu menahan ikan agar tidak berlari sampai dasar karang, yang beresiko putus.

Sedang pemakaian piranti ringan pe 3 -5 sebaiknya di aplikasikan pada spot spot popping  yang memiliki kedalaman cukup agar drag pada reel bisa mengulur jauh, sehingga senar aman dari resiko putus, dan sobat bisa menikmati sensasi lebih dari penggunaan piranti ringan untuk menaklukan ikan besar.

Pemilihan jenis popper seperti Churger bisa di sesuaikan pada kondisi tertentu, misalkan saat gelombang tidak terlalu tinggi (cenderung flat), cara retrive nya bisa di jrek santai atau di tarik dengan irama panjang jika GT lama tidak menyambar bisa coba gunakan tipe Floating swim dengan cara di sentak pelan atau di gulung dengan cepat. Pada saat riak gelombang besar dan arus cukup deras sobat bisa mencoba menggunakan tipe sinking swim dengan cara di ayun panjang atau di sentak sentak kecil.

Spot mancing surf fishing dan popping di Bali
Alaska Popper senjata andalan Tong Tio untuk memburu GT

Perhatikan ketika fight dengan ikan saat popping. Pastikan posisi sobat pada keseimbangan yang baik, karena saat fight dengan teknik popping akan sangat berbeda ketika kita fight saat jigging atau bottom fishing. Karena posisi senar akan membentuk sudut horizontal sebelum sampai ke posisi vertical. Jika keseimbangan kita tidak cukup bagus baik saat popping dari atas kapal maupun landbase, akan beresiko terseret ikan, karena tumpuan pada kaki kita sangat sedikit sekali, apalagi pada saat posisi berdiri tegak lurus tanpa sempat merebahkan badan ke belakang.

Posisi saat fight dengan teknik popping membentuk sudut horizontal

Penggunaan treble hook pada saat fight dengan drag tinggi jika posisi hook yang menancap di mulut ikan tidak sempurna akan beresiko benggang, hal ini di sebabkan bentuk treble hook yang relatif besar dengan tiga mata kail membuat agak sedikit susah ketika proses penetrasi, karena terjadi kemungkinan salah satu sisi mata kail pada treble malah jadi penghalang sehingga hook up tidak bisa sempurna. Hal ini bisa di coba menggunakan double hook maupun singgle hook, karena kelebihannya singgle hook akan lebih mudah saat penetrasi ketika ikan menyambar umpan.
Spot mancing surf fishing dan popping di Bali
contoh modifikasi hook

Penggunaan single hook maupun double hook harus di sesuaikan dengan berat treble hook standart ukuran popper, sehingga tidak mempengaruhi action popper itu sendiri, terutama untuk pemakain popper tipe swim.

Berikut ini beberapa report popping di spot spot daerah Bali oleh Tong Tio

Spot mancing surf fishing dan popping di Bali

Spot mancing surf fishing dan popping di Bali


Spot mancing surf fishing dan popping di Bali

Spot mancing surf fishing dan popping di Bali

Spot mancing surf fishing dan popping di Bali

Spot mancing surf fishing dan popping di Bali

Spot mancing surf fishing dan popping di Bali

Spot mancing surf fishing dan popping di Bali

Spot mancing surf fishing dan popping di Bali

Spot mancing surf fishing dan popping di Bali

Spot mancing surf fishing dan popping di Bali

Spot mancing surf fishing dan popping di Bali




Spot spot mancing di daerah Bali memang luar biasa baik popping jigging maupun land base. Selain itu sobat mancing juga bisa menikmati keindahan alam dan pesona PULAU DEWATA.

Sekian semoga bermanfaat.
koresponden Tong Tio (Alaska Popper)