Minggu, 31 Juli 2016

Mendeteksi lokasi keberadaan ikan

Mendeteksi lokasi keberadaan ikan
Mendeteksi lokasi keberadaan ikan

Keberadaan ikan disuatu tempat atau daerah banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor, yang sekaligus mempengaruhi pola hidup berdasarkan tingkat toleransi masing masing jenis ikan terhadap lingkungannya. Misalkan pada saat kondisi suhu dan temperatur air laut melebihi batas toleransi maka ikan akan melakukan migrasi mencari lokasi perairan dengan kondisi suhu dan temperatur yang lebih sesuai. Akan tetapi jika perubahan suhu dan temperatur air masih dibatas toleransi, hal ini akan berpengaruh terhadap pola makan dan tingkat agresifitasnya.

keberadaan lokasi ikan diperairan Indonesia sendiri bersifat dinamis,  selalu berubah (berpindah) mengikuti pergerakan dan perubahan kondisi lingkungan tempat ikan ikan (mencari makan). Yang melalui proses alamiah ikan akan menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan sekitar. Dalam hal ini biasanya terdapat musim ikan disuatu daerah terutama untuk jenis ikan pelagis seperti tongkol, tenggiri, cakalang, dan tuna sirip kuning.

Habitat sebuah lingkungan akan sangat dipengaruhi oleh parameter oceanografi yang meliputi temperatur dan suhu air laut baik permukaan maupun dasar laut, salinitas air, konsentrasi klorofil, perubahan cuaca maupun pergantian musim yang berpengaruh terhadap dinamika pergerakan air laut. Hal inilah yang menjadi kendala bagi penangkapan ikan di Indonesia karena kurangnya data dan informasi bagi para nelayan mengenai kondisi oceanografi yang berkaitan dengan daerah potensi penangkapan ikan. Sehingga terjadi pemborosan waktu dan bahan bakar untuk mencari lokasi fishing ground.

Salah satu teknologi yang digunakan untuk mencari data dan informasi mengenai wilayah perairan yang merupakan daerah penangkapan  ikan adalah teknologi penginderaan jauh atau remote sensing. Yang meliputi sebaran suhu permukaan laut dan konsentrasi klorofil. Dari informasi sebaran suhu permukaan laut dapat diidentifikasi daerah upwelling dan front termal yang merupakan daerah potensi perikanan, data data tersebut bisa diperoleh melalui citra satelit.

NOAA- merupakan satelit milik Amerika yang menerapkan sistem AVHRR (Advanced Very High Resolution Radiometer) sebagai sensor radiasi yang bisa digunakan untuk menentukan tutupan awan dan suhu permukaan. Sensor ini berupa radiometer yang menggunakan 6 detector yang merekam rediasi pada panjang gelombang yang berbeda-beda. Data AVHRR terutama digunakan untuk ramalan cuaca harian dan dapat diterapkan secara luas pada banyak lokasi dan perairan. Data AVHRR  digunakan untuk membuat Peta Suhu Permukaan Laut (Sea Surface Temperature maps/SST Maps), dimana dapat digunakan untuk prediksi daerah tangkapan ikan melalui beberapa proses sederhana. Yaitu Sensor yang ada pada satelit diberi filter hijau (band hijau) secara digital, sehingga detektor akan mendeteksi sinar hijau saja pada permukaan laut untuk mendeteksi konsentrasi klorofil. Yang selanjutnya di lakukan pengukuran secara manual (in-site) di lokasi perairan tersebut, untuk memastikan kebenaran data data yang di peroleh oleh satelit.

Contoh data informasi dari penginderaan jarak jauh melalui citra satelit.

Mendeteksi lokasi keberadaan ikan




Klorofil-a merupakan sejenis plankton yang mengandung klorofil (zat hijau daun). Plankton ini merupakan makanan ikan-ikan kecil, yang kemudian akan mengundang ikan ikan besar sebagai predator didalam rantai makanan dalam sebuah ekosistem laut.

Kita dapat memperoleh data klorofil-a dan sebaran suhu melalui informasi dari dinas perikanan setempat untuk bisa dijadikan acuan sebagai titik lokasi mancing.

Penggunaan fish finder sebagai alat pendeteksi fishing ground.

Fish finder menerapkan cara kerja yang sama dengan echo sounder, menggunakan pantulan gelombang suara (pulsa) yang dipantulkan oleh tranduser pada fish finder secara vertical hingga menyentuh dasar laut, yang kemudian pulsa gelombang tersebut dipantulkan lagi dan diterima oleh tranduser untuk kemudian dirubah menjadi tampilan bentuk dasar laut pada layar fish finder. Yang berupa kedalaman bentuk kontur dasar dan menditeksi adanya gerombolan ikan.

Mendeteksi lokasi keberadaan ikan
Fishfinder merupakan alat bantu pendeteksi ikan dan kontur dasar laut

Fish finder terdiri dari beberapa komponen antara lain :

- Transmiter
- Tranducer
- Receiver
- Recorder

Cara kerja fish finder :

Transmiter merupakan pembangkit pulsa listrik pada frekuensi tertentu yang diperkuat oleh power amplifier kemudian di salurkan ke tranducer. Tranducer bertugas untuk merubah energi listrik menjadi energi suara yang kemudian dipancarkan dan diterima kembali berupa gema, yang kemudian diubah kembali menjadi energi listrik. Fungsi lain dari tranducer yaitu menghimpun energi suara yang dipantulkan ke dalam beam (sudut sorotan). Kemampuan masing2 tranducer berbeda beda dalam menditeksi kontur karang dan keberadaan ikan, biasanya tersedia mulai dari yang paling rendah 400w, 600w, hingga di atas 1000w dengan kemampuan membaca kontur karang dan keberadaan ikan lebih detil.

Pulsa suara yang diterima oleh tranducer dan dirubah menjadi energi listrik akan di kuatkan oleh receiver sebelum dialirkan ke recorder. Recorder sebagai alat pencatan untuk di tampilkan pada layar display CRT, yang berbentuk sinar osilasi (warna layar).


Sea maps sebagai langkah awal pendeteksi keberadaan ikan.


Peta kedalaman laut

Jenis ikan terbagi menjadi 2 golongan yaitu ikan pelagis dan ikan demersal (penghuni karang). Jenis ikan ikan pelagis memiliki pola hidup berpindah pindah (ikan datang) mengikuti ketersedian makanan pada lokasi perairan laut. Ikan jenis palagis banyak dijumpai berada dipermukaan laut maupun pertengahan air laut, yang pada kondisi malam hari penerangan lampu merupakan cara yang tepat untuk mengundang ikan pelagis, hal ini karena ketersediaan ikan ikan kecil dan cumi yang berada disekeliling lampu yang menjadi makanan utamanya.

Selain itu penyebaran dan konsetrasi klorofil serta adanya biomassa yang naik dari dasar laut kepermukaan (up welling) memicu keberadaan ikan ikan pelagis yang mencari mangsa ikan ikan kecil di sekitar lokasi perairan yang banyak terdapat plankton yang mengandung klorofil ( zat hijau daun), sebagai makanan nya.

Penyebaran klorofil ini bisa menjadi acuan keberadaan ikan ikan pelagis seperti tongkol cakalang dan tuna, yang data dan informasinya bisa diperoleh dari departeman kelautan dan perikanan melalui citra satelit dan pengujian dilapangan.

Sedangkan untuk jenis ikan ikan demersal (penghuni dasar karang) keberadaan karang, drof off, atau rumah ikan buatan bisa menjadi acuan untuk mendeteksi keberadaan ikan tersebut. Hal ini penggunaan sea maps atau peta dasar laut sangat di perlukan sebagai langkah awal untuk mendeteksi keberadaan lokasi tempat ikan (fishing ground). Kita bisa memadukan beberapa peta dasar laut dari beberapa website atau aplikasi untuk dijadikan target explorasi untuk menemukan lokasi fishing ground. Misalkan pada peta dasar laut seperti Navionic, yang kemudian titik kordinatnya dipadukan dengan google earth yang merupakan hasil dari photo satelit, guna memperoleh titik lokasi yang real yang selanjutnya kita jadi kan target pencarian fishing ground, dengan menggunakan alat bantu berupa GPS dan fish finder untuk menempatkan posisi kapal tepat di atas lokasi spot.

Dengan demikian keberadaan teknologi dewasa ini sangat membantu dalam proses penangkapan ikan dan meningkatkan hasil laut dalam batas batas yang normal. Selain menghemat waktu, bahan bakar dan biaya. Kita bisa menentukan spot spot tujuan mancing yang potensial.

Semoga bermanfaat.

Kontributor : Dr Rommy Abdulloh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar